Seputar Informasi Unik dan Menarik

Seputar Kota Kudus Tempo Dulu

Kota kudus salah satu kota yang padat penduduknya dan sempit daerahnya. Kudus adalah sebuah kota yang secara geologis terletak di Jawa Tengah tepatnya disebelah utara pulau Jawa sekitar kurang lebih 51 km ke arah timur ibu kota Jawa Tengah Semarang, Menurut pendapat Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka, diseluruh tanah Jawa hanya ada satu tempat yang namanya di ambil dari bahasa Arab yaitu Kudus. Sebuah kabupaten yang mempunyai penduduk kurang lebih 704.137 jiwa ( MenurutSensusnas 2000 ) ini mempunyai status kabupaten, atau disebut dengan istilah sekarang daerah Swantara tingkat II, termasuk karesidenan Pati.
Kota Kudus sangat strategis letaknya, karena merupakan daerah perlalu-lintasan yang menghubungkan daerah-daerah sekitarnya. baik daerah di sebelah timur, seperti misalnya daerah Pati, Tayu, Juwana, Rembang, Lasem, dan Blora, maupun daerah-daerah sebelah barat seperti Mayong, Jepara dan Bangsri mempergunakan kota Kudus sebagai daerah penghubung yang menghubungkan daerah-daerah tersebut dengan kota Semarang, sebagai pusat pemerintahan tingkat propinsi.
Kudus kota kretek, Kudus kota jenang, dan Kudus kota santri menunjukkan betapa penting kota kecil . Kota Kudus yang terletak di jantung kabupaten terkecil di Jateng ini memang cukup dinamis dalam beberapa hal. Sebagai kota kretek, jenang, dan santri, Kudus tak diragukan lagi.Yang terakhir, kalau orang menyebutnya sebagai kota santri, pikiran kita lalu menunjuk Menara Kudus dengan Sunan Kudus dan Sunan Muria yang bermukim di atas Gunung Muria.
Kota Kudus disebut juga kota suci dari makna kata Kudus yang berarti ” Suci ” , Konon nama ini diberikan oleh seorang tokoh bernama Ja ‘ far Shodiq atau lebih di kenal dengan sebutan sunan Kudus, nama ” Kudus ” sendiri berasal dari  bahasa Arab yaitu Al-Quds, yaitu Baitul Mukadis berarti tempat suci. di Kudus sendiri terdapat 2 makam sunan penyebar agama islam di tanah Jawa yaitu Makam Sunan Kudus yang bertempat di masjid Menara dan Makam Sunan Muria yang bertempat di lereng Gunung Muria, yang selain sebagai tempat ibadah makam sunan juga banyak di kunjungi sebagai tujuan wisata agama yaitu ziarah Wali Songo. Sebagai daerah tujuan wisata Masjid Menara Kudus adalah salah satu obyek wisata yang selalu ramai dikunjungi masyarakat baik domestik maupun lokal, dimana Masjid Menara merupakan salah satu peninggalan bersejarah dari para wali songo yang dibangun pada tahun 956 H atau 1544 M merupakan hasil asimilasi dari 2 kebudayaan yaitu Hindu dan Islam.
Disamping fungsinya sebagai kota penghubung, kota Kudus termasuk kota yang ramai, karena sebagaimana di ketahui, Kudus adalah terhitung kota Industri. Disana kita dapati banyak industri rokok kretek, gula, pertenunan, percetakan dan lain sebagainya.Kota Kudus lebih di kenal sebagai kota Kretek dimana terdapat lebih dari 50 pabrik Rokok dari home industri sampai industri berskala besar diantaranya adalah PT. Djarum, PT. Nojorono, PR.Sukun, PR. Jambu Bol, selain itu juga terdapat beberapa pabrik bersekala nasional maupun international besar bahkan menggunakan tekhnologi tinggi seperti PT. Pura Barutama,  PT. Polytron.
alun_alun_kota
Alun-alun kota Kudus
Kudus berasal dari kata Al-Quds, yaitu Baitul Mukadis, sebuah nama saat tempat itu dinyatakan sebagai tempat suci oleh Sunan Kudus. Nama sebelumnya adalah Tajug ( Tajug adalah bentuk atap arsitektur tradisional yang sangat kuno dipakai untuk tujuan keramat  ), atau dapat disebut juga bangunan makam. Dengan demikan kota Tajug dulunya sudah memilki sifat kekeramatan tertentu.
Lahirnya kota kudus tidak dapat dipisahkan dari nama sesepuh tertua yang pertama-tama menggarap tempat tersebut, yaitu Kyai Tee Ling Sing. Beliau adalah mubaligh Islam dari Yunan, yang datang bersama – sama dengan seorang pemahat / pengukir ulung bernama Sun Ging An ( Kemudian menjadi kata kerja nyungging yang berarti mengukir, daerah ukir mengukir dijaman purbakala ini kemudian menjadi desa Sunggingan ). Kyai Tee Ling Sing kemudian bersama – sama dengan pendatang Ja ‘ far Shodiq ( sunan Kudus ) secara bertahap berhasil menguasai daerah kudus dan mengembangkanya.
Kota suci Kudus / Baitul Mukadis sudah sangat terkenal di pulau Jawa, dan bahkan Nusantara sebagai pusat penyebaran agama Islam, Masjid besarnya bernama Al – Manar atau Al – Aqsa, seperti masjid suci di Baitul Mukadis bagian Islam. Sejak abad 17 pengunjung – pengunjung barat sudah mengagumi Menara raksasanya – sebuah bangunan kukuh, berarsitektur candi – candi pra – Islam.
2.  Kerajaan kecil Kudus
Sejarah kota Kudus tidak lepas dari nama seorang tokoh penyebar agama Islam di tanah Jawa yaitu Ja ‘ far Shodiq, atau lebih di kenal sebagai Sunan Kudus, bersama tokoh – tokoh agama Islam, mereka membangun kekuasaan berdasarkan wibawa rohani terhadap para jemaah dan orang alim. pada segi tertentu, mereka dapat di bandingkan dengan raja – raja Cirebon dan Giri Gresik, yang memulai kegiatan mereka sebagai pemimpin agama, membentuk dinasti dan berhasil meraih kekuasaan politik cukup besar.
Pemimpin rohani ini berderajat tinggi, penuh semangat tempur bernama sunan Kudus. Ikut bertugas dalam militer melawan Mojopahit pada tahun 1527, bertahun – tahun hidup di Demak sebagai penghulu mesjid suci Demak – karena berselisih denga raja Demak perkara permulaan bulan Puasa beliau pindah ke Kudus dan selanjutnya mendirikan kerajaan kecil disana.
3. Perkembangan kota Kudus
foto_lama
Kudus Tempo Doeloe
Kota Kudus berkembang bersama dengan daerah lain, dan embrio ini sekarang dikenal sebagai kota Kuno atau pusat kota lama, di sebut Kudus kulon dan terdiri dari 7 desa :
  • Pemukiman : berdasarkan etnis sosiologis, perkembangan pemukiman di kota Kudus dapat dikelompokkan sebagai berikut :

Kudus Kulon :
1. Pusat Kota Lama :
· Kauman
· Kerjasan
· Langgar Dalem
· Demangan
· Janggalan
· Damaran
· Kajeksan
2. Daerah Pinggiran Kota :
· Krandon
· Singocandi
· Purwosari
· Sunggingan
Kudus Wetan :
1. Daerah Cina :
· Panjunan
· Kramat
· Wergu Kulon
2. Daerah Priyayi :
· Nganguk
· Glantengan
· Barongan
3. Daerah Abangan :
· Mlati Kidul
· Mlati Lor
· Mlati Norowito
· Rendeng
· Wergu Wetan
4. Desa – Desa Lainya :
· Demaan
· Burikan
· Kaliputu
Penduduk : Disini kita melihat adanya pengelompokan sistem sosial – meminjam Tipologi Jawa dari Geertz yaitu santri, Priyayi dan Abangan, walaupun tidak tepat benar. Penduduk Arab dan Cina juga bermukim disana, termasuk Eropa berdasar sensus tahun 1930 berjumlah 417 penduduk. 
4. Potret Kota Kudus dalam Sejarah Nasional
foto_lama2
Suatu Potret yang diambil di rumah H. Mc. Noerchamid, Kunjungan tokoh pejuang nasional Dr. Gatot Subroto dan tokoh – tokoh pejuang Nasional lainya di kota Kudus.
5. Sosial Budaya
Melacak Tradisionalisme di Kudus berarti melacak sosial budaya saat ini dan yang lalu untuk mendapatkan gambaran yang tidak terputus. Dan tradisionalisme ini jelas adalah kontinuitas pada lingkungan kota lama, yaitu Kudus Kulon.
Priyayi Kudus adalah Aristokrat keturunan Sunan Kudus, yang diberi gelar oleh pemerintah kolonial dan sebenarnya tidak disenangi oleh mereka, Umumnya mereka tidak kaya, memilih bekerja sebagai pedagang, pengrajin, mubaligh dari pada sebagai pegawai negeri. Orientasi budaya adalah santri. Bahkan salah satu Raden yakni KHR. Asnawi menjadi pendiri NU. Sebagian besar orang – orang Kudus Kulon tinggal di rumah – rumah besar, para generasi lama membangun kekayaan mereka dengan cara hidup sederhana, bekerja keras, menjadi usahawan yang ulung dan santri yang saleh, agak kurang percaya dengan pendidikan ala barat kecuali pendidikan Islam tradisional. Pada periode puncak kemakmuran mereka, mereka cenderung menjadi bangsawan borjuis yang sadar bahwa dengan mereka bertentangan dengan pegawai priyayi dan elite priyayi.
7. Kebudayaan 
Kegiatan – kegiatan kebudayaan yang ada di kota Kudus lebih di dasari oleh kehidupan beragama, yaitu Islam. Khususnya kawasan sekitar Masjid Menara Kudus, setidaknya ada 4 tradisi atau adat yang berjalan rutin setiap tahun, yaitu :
1. Dandangan.
dandangan
Dilaksanakan setiap menjelang bulan puasa, berlangsung semacam ”pasar malam” sekitar dua minggu, sambil menunggu kepastian awal Puasa. Hampir semua pedagang kaki lima (PKL) dengan segala macam dagangan berkumpul pada momen itu. Bahkan lengkap dengan hiburan rakyat yang murah meriah bernuansa tradisional. Lokasi Dandangan ditetapkan berlangsung di sekitar Masjid Menara hingga pohon beringin, Jl. Menara Kudus, dan Jl. Madurekso praktis di tutup untuk kegiatan tersebut. Sedangkan Jl. Sunan Kudus sampai Alun – alun biasanya juga menjadi padat sekali, apalagi dengan kedatangan wisatawan, maka area parkir bus menggunakan Jl. Kyai Telingsing maupun jalan – jalan disekitarnya.
2. Buka Luwur
Diadakan setiap tahun, bertepatan dengan tanggal 10 Muharram ( Assyura ). Buka Luwur adalah upacara tradisional penggantian kain kelambu yang dijadikan penutup makam Sunan Kudus. Upacara ini cukup meriah kendati tidak semeriah Dandangan. Upacara ini ditekankan pada Makam Sunan Kudus dan penggantian kain kelambu penutup makam. Biasanya dalam upacara ini dilengkapi dengan selamatan dan pembacaan tahlil serta do’a. Upacara ini biasanya melibatkan para tokoh – tokoh agama, para sesepuh dan masyarakat sekitar Masjid Menara ini.
3. Tradisi Muludan.
Diadakan tiap – tiap bulan Maulud yang intinya memperingati hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW, peringatan ini memang menjadi salah satu kegiatan Islam yang sifatnya Internasional, tetapi untuk masyarakat Kudus juga menjadi tradisi.
4. Bulusan
Yaitu tradisi yang diadakan tiap tahun, tepatnya tujuh hari setelah hari raya Idul Fitri. Tradisi ini hampir sama dengan budaya jawa tengah yaitu Kupatan, tempat diadakanya tradisi bulusan adalah desa bulusan yang konon menurut cerita dahulu ada seorang yang dikutuk menjadi seekor bulus ( Kura – kura ), aneh nya tempat itu sekarang masih banyak Kura – kura yang berkeliaran. Untuk meramaikan tradisi ini biasanya diadakan pasar malam atau bazar.
8. Tempat Wisata
  • Museum Kretek
museum_kretek
Bukan hanya untuk para perokok berat. Tapi bisa untuk siapa saja yang ingin tahu sejarah rokok kretek di Indonesia. Itulah Museum Kretek di Kudus, Jawa Tengah, yang merupakan satu-satunya museum rokok di Indonesia. Di sana Anda bisa menemukan bagaimana proses pembuatan rokok hingga tokoh-tokoh yang berperan besar dalam memajukan bisnis rokok di Indonesia.
Bangunan Museum Kretek yang berdiri di atas areal seluas 2 hektar ini terbilang sangat indah dan megah. Di depannya ada dua bangunan terpisah berasitektur rumah adat Kudus dan surau gaya Kudus. Interior Museum dipenuhi dengan patung-patung dan berbagai macam perlengkapan pembuatan rokok. Patung-patung yang apik itu adalah hasil karya seniman-seniman Kudus, khususnya dari kalangan pendidik.
Begitu memasuki Museum ini, Anda bakal disambut dengan patung perempuan bercaping yang dikelilingi empat perempuan lainnya. Patung-patung itu memperagakan proses pembuatan rokok kretek secara manual, mulai dari pelintingan hingga persortiran. Kemudian, di bagian sayap dalam kanan-kiri, Anda bisa mempelajari seluk beluk proses kerja pembuatan rokok dari bahan mentah hingga ke pemasaran. Dengan menggunakan diorama, di situ digambarkan mulai dari penanaman tembakau, pemetikan, pengolahan di pabrik sampai akhirnya menjadi rokok dan siap dipasarkan.
Di Museum Kretek ini juga dipamerkan mesin manual untuk mengolah tembakau dan rokok dalam filtrin-filtrin tersendiri. Berbagai macam bahan pembungkus rokok seperti daun jagung atau klobot, yang merupakan cikal bakal pembungkusan lintingan, turut melengkapi Museum ini. Siapa tokoh di balik bisnis rokok ini? Anda bisa melihatnya melalui foto-foto yang terpajang di dinding tengah bagian dalam Museum. Foto-foto saudagar atau industriawan pabrik rokok di Kudus itu terpampang dalam warna hitam-putih. Tentu saja tak ketinggalan foto M Nitisemito berukuran besar. Jangan heran bila foto M Nitisemito berukuran paling besar dibanding yang lainnya. Maklum saja, Nitisemito merupakan tokoh paling berjasa, dan pionir industri rokok di Kudus bahkan di Indonesia. Tak berlebihan bila Museum ini seolah tempat mengenang jasa industriawan Nitisemito.
Tertarik? Silakan datang. Tempatnya tak terlalu sulit untuk dijangkau, baik dengan kendaraan pribadi maupun umum. Kota Kudus terletak 50 km timur Semarang, paling tidak bisa menghabiskan waktu kurang dari satu jam dari Semarang. Tapi ingat, jangan berasap (merokok) di ”museum asap” ini.
  • Gunung Muria ( Wisata pegunungan Colo )
Gunung Muria adalah gunung yang terletak di sebelah utara kota kudus kurang lebih 18 Km dari pusat kota. Gunung Muria sudah banyak dikenal orang terutama para peziarah, karena disana terdapat makam salah satu tokoh dari 9 wali, yaitu Sunan Muria. Selain Makam Sunan Muria terdapat juga objek wisata pegunungan yaitu Colo.
Colo merupakan daerah tujuan wisata yang banyak di kunjungi, umumnya pada hari Sabtu dan Minggu, Selain  udaranya yang sejuk dan segar anda juga dapat menemukan wisata Air terjun Monthel, disana anda dapat mandi atau sekedar bermain air. Bagi anda yang ingin menikmati liburan dan beristirahat dengan santai sembari menghirup udara segar di sana juga terdapat banyak vila untuk disewakan. Bagi anda yang Hobby petualangan, disana anda juga dapat melakukan camping atau mendirikan kemah.
  • Taman Krida Wisata Gor Wergu Wetan
taman
Yaitu sebuah taman rekreasi yang teduh dan nyaman lokasi ini terdapat di depan gedung olah raga ( GOR ) wergu wetan. disana anda dapat menemukan aneka tempat bermain anak – anak, selain itu anda juga dapat duduk – duduk santai di bawah pohon rindang yang banyak terdapat disana sambil melihat pemandangan, atau melihat tingkah monyet – monyet. jika anda lelah dan capek berjalan – jalan anda dapat menikmati jagung bakar atau bakwan bakar sambil minum teh, lokasinya terdapat di belakang komplek taman wisata, disana terdapat kurang lebih 10 pedagang jagung bakar yang setiap hari mangkal disana, tempat ini banyak di kunjungi anak – anak muda di waktu sore hari.
Merupakan tugu identitas kota kudus, bangunan yang mirip menyerupai bangunan Masjid Menara setinggi  50 m ini banyak dikunjungi oleh wisatawan umumnya anak – anak muda. di puncak tugu tersebut terdapat ruangan, disana anda dapat melihat keindahan pemandangan kota Kudus dari atas, selain itu terdapat juga sebuah taman disana, jika anda ingin santai sambil duduk – duduk disanalah tempat yang cocok. Untuk memasuki kawasan tugu Identitas tersebut anda hanya di pungut biaya Rp. 500. Lokasi ini terdapat di depan komplek pertokoan Kudus Plaza.
8. Makanan Khas Kudus
  1. Soto Kudus
soto-kudus
Setiap orang yang berkunjung ke Kudus pasti akan selalu mencari soto Kudus yang terkenal akan cita rasanya yang berbeda dibandingkan dengan soto dari daerah lain.
2. Jenang Kudus
jenang-kudus
Oleh-oleh apa yang banyak dibawa orang dari Kudus, Jawa Tengah? Jenang kudus, itulah jawaban yang mungkin Anda ajukan. Jenang Kudus yang mirip dodol Garut, Jawa Barat, itu sudah menjadi oleh-oleh khas dari kota tersebut. Rasanya kenyal manis dengan berbagai aroma buah. Jenang ini biasanya dijual dalam potongan-potongan kecil, dibungkus kertas kaca, dan dimasukkan ke dalam kemasan dus.
Di Kudus, ada ratusan home industry jenang. Namun, yang cukup besar dan terkenal adalah yang disebut Saiman, jenang Mubarok. Maklum, jenang Mubarok, yang diproduksi PT Mubarokfood Cipta Delecia, merupakan cikal-bakal pembuat jenang di Kudus.
Industri jenang ini pertama kali dirintis oleh pasangan suami-istri H Mabruri dan Alawiyah pada 1910. Pada waktu itu, jenang tersebut belum diberi merek, bahkan masih sebatas usaha sampingan. Pekerjaan pokok Mabruri sebagai pandai besi yang tinggal di Jalan Sunan Muria, Desa Glantengan, Kudus.
Tag : Sejarah
3 Komentar untuk "Seputar Kota Kudus Tempo Dulu"

Jadi kangen nih ....
Bro..ada photo2 Kudus tempo doeloe ngga ya .....

Terima kasih atas kunjungannya dan selamat berkomentar, oow iya teman-teman jangan lupa ya klik peluang usaha yang ada disebelah kanan dan bawah.. siapa tau iklan yang ada dapat bermanfaat buat agan-agan semua!!! salam persahabatan :D

Back To Top